Air Hujan Bisa Menghasilkan Enegi Listrik, Lho! (2)

“Jadi ketika hujan, tetesan air akan jatuh di penampang, saat itulah per bergerak naik turun dan juga menggerakan kumparan dan medan magnet. Pertemuan medan magnet dan kumpuran inilah yang menghasilkan energi, atau istilahnya dalam fisika menghasilkan fluks,” kata siswa yang pernah meraih medali dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2011 ini.

Ukuran alat ini hanya 16×16 sentimeter. Dari alat ini baru bisa menghasilkan listrik 48 milovolt. Alat ini masih dikatakan sebagai prototipe. Namun bila diaplikasikan dengan ukuran lebih besar dan komponennya juga disesuaikan bisa menghasilkan energi yang besar juga.

Dicontohkan, bila ukurannya diperbesar tiga kali lipat atau lebih bisa menghasilkan listrik 48 volt yang bisa menghidupkan lampu. Agar alat ini bisa berfungsi, maka tetes hujan yang jatuh di penampang adalah tetesan yang cukup deras. Kalau hanya sekadar rintik hujan, alat tidak akan bergerak atau berfungsi. Semakin deras air hujan yang turun maka akan semakin baik energi yang dihasilkan.

Komponen alat ini, menurut Luthfi, dari barang-barang yang bisa didapat di Indonesia. Hanya saja, saat untuk membuat alat ini mereka mendapat kendala memperoleh magnet ukuran kecil. Mereka sampai berburu magnet ke Bandung. Itu pun setelah dapat hanya beberapa saja persediaan, sementara mereka butuh 16 magnet yang disesuaikan dengan jumlah kumparan dan per yang mereka sebut satu sel yang terdiri dari kumparan kawat, per, magnet dan mika. Mereka baru bisa mendapat magnet setelah pesan selama satu minggu.

“Dalam satu alat ini ada 16 sel, kami susun segi empat,” ujar siswa yang baru pertama ikut lomba karya ilmiah ini.

Untuk biaya, mereka hanya menghabiskan biaya Rp 500 ribu untuk satu alat. Komponen paling mahal adalah magnet dengan harga satuan Rp 22 ribu. Kini dengan prototipe yang sudah ada, mereka ingin mengembangkan lebih baik lagi.

Dalam pengaplikasiannya terhadap eksperimen ini, pemerintah juga sudah membentuk Pembangkit Listrik Tenaga Air Hujan (PLTAH) yang menginisiasi penelitian tentang adanya potensi energi dari air hujan yang dapat dikelola setelah jatuh dari rumah atau gedung. (Selengkapnya baca di sini)

Tulisan ini atas sumbangsih Ema Fitriyani

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *