Gas Bumi Murah juga Ada di Bajaj Gas di Jakarta! Cerita Saya di Stasiun Gondangdia

Bajaj? Saya pernah melihatnya saat kecil dulu di tv. Tapi itu pun bajaj yang berwarna oranye dan berasap pekat. Tapi sekarang kok biru ya? Adem gitu lihatnya. Seorang kawan juga bilang kalau naik bajaj, murah. Lah kok bisa? Iya karena dia pakai gas bumi murah untuk bahan bakar!

Itulah kesan pertama saya ketika melihat bajaj gas yang berseliweran sekitar Stasiun Gondangdia saat akan ke kantor bersama kawan saya yang orang Jakarta asli  sekitar awal Agustus lalu. Dia banyak bercerita soal transformasi kendaraan mungil yang sering diumpatin “dasar tukang ngeles” ini.

Kata kawan saya, memang benar, sebelum bajaj gas biru, bajaj yang lama berwarna oranye persis bajaj yang ada di sitkom Bajaj Bajuri. Seperti mantan kekasih, dia bilang, bajaj yang sekarang bukan bajaj yang dulu. Ahai.

Yep, saya pun taunya bajaj itu yang oranye. Lalu dia bilang beberapa perubahan terjadi pada bajaj dan itu cukup membuat nyaman penumpang juga menguntungan pengemudi.

Kok bisa sih?

Lebih Nyaman

Katanya, bajaj yang saat ini mondar-mandir di beberapa titik seperti di sekitar Masjid Cut Meutia, Gondangdia, itu secara fisik sih sama aja bentuknya tapi fasilitas di dalamnya lebih enak. Kursi penumpangnya empuk dan ada gordin di kiri dan kanan bajaj, jadi kalau hujan, airnya nggak masuk ke dalam bajaj, sehingga penumpang nggak kebasahan. Pokoknya nyaman deh kata teman saya itu.

Suara Tidak Bising

Kenyamanan lain selain tempat duduk adalah suara yang dihasilkan dari mesin bajaj. Sebelumnya itu terdengar bising. Berisik deh kalau jalan. Tapi sekarang nggak trak trak trek trok lagi. Entah karena di dalam bajajnya itu dipasang bahan kedap suara atau memang gara-gara sudah beralih bahan bakarnya. Yang pasti kata teman saya, kalau naik bajaj gas biru sekarang itu kuping nggak pengang. (Selengkapnya di sini)

Penulis Puput Helmy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *