Gas Bumi yang Memudahkan Urusan Rohani

Kerohanian dan gas bumi memang nampaknya tidak saling berkaitan, namun hal-hal yang harus diurusi sehari-hari menggunakan gas bumi pastilah banyak dan beragam. Kegiatan seperti memasak makanan dan air minum adalah mutlak harus dilakukan setiap hari. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini tidak mungkin dapat dielakkanĀ oleh sebuah pesantren dengan alasan urusan kerohanian.

Pesantren juga merupakan tempat pembentukan kedisiplinan. Pendidikan di pesantren hampir mirip dengan pendidikan di militer, yaitu sangat menekankan kedisiplinan dari para santri yang tinggal di dalamnya. Setiap pagi di sebuah pesantren, lonceng manual dengan cara mengetok-ngetokkan pintu dengan sendok yang dibunyikan langsung oleh pengasuh pesantren menjadi pembangun bagi yang sedang pulas tertidur.

Dengan model pendidikan kebanyakan pondok pesantren yang umumnya disiplin seperti ini, kegiatan sehari-hari tentu saja perlu dilakukan dengan tepat waktu dan terencana. Namun, sayangnya masih banyak pondok pesantren yang belum dapat memaksimalkan penggunaan gas bumi yang dapat diandalkan dan aman bagi kesehatan serta keselamatan. Sehingga, urusan kerohanian dan pembentukan kedisiplinan para santri dapat berjalan kurang mulus dari yang seharusnya bisa diusahakan.

Pondok pesantren Nurul Huda diĀ Bendungan Tengah, Keraton, Pasuruan, adalah salah satu pesantren yang dulu belum mengetahui cara mendapatkan pasokan gas bumi yang aman dan terpercaya. Mereka menggunakan LPG untuk kebutuhan memasak 250 santri putri dan kayu bakar untuk kebutuhan memasak 200 santri putra. Namun seperti dinyatakan oleh pimpinan pesantren Gus Nadhimuddin, LPG seringkali tidak berhasil didapatkan sehingga mereka terpaksa menggunakan minyak tanah atau kayu bakar. Selain biayanya cukup mahal, asap hasil pembakaran juga cukup berbahaya bagi kesehatan. (Selengkapnya baca di sini)

Tulisan ini atas sumbangsih Sheila Shelomita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *