Mengatasi Kebergantungan BBM dengan Diversifikasi Energi

Bagaimana cara mengatasi kebergantungan BBM dengan Diversifikasi Energi? Kebijakan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) adalah sebuah kebijakan tidak populis sekaligus dilematis,mengingat telah bertahun-tahun masyarakat kita telah “dininabobokan” dengan
berbagai kebijakan semu yang seolah-olah menguntungkan rakyat.
Yang jelas, harga BBM mau tidak mau akan tetap naik secara linear seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi minyak bumi dunia. Naiknya harga BBM makin menyadarkan masyarakat untuk menggunakan minyak bumi secara bijak, efektif dan efisien. Cadangan minyak bumi yang makin menipis harusnya menjadi pemikiran untuk mencari serta mengelola sumber energi lain untuk diberdayakan secara optimal.
Di saat harga BBM melambung tinggi, penggunaan energi alternatif bisa menjadi sebuah pilihan baru bagi masyarakt luas untuk menentukan sumber energi yang digunakan dengan didasarkan pada kondisi ekonomi masing-masing.
Diversifikasi artinya menurunkan ketergantungan hanya pada beberapa sumber energi (minyak dan gas) dan kemudian menggantikan itu dengan sumber yang lain. Usaha ini antara lain bisa dilakukan dengan mengembangkan sumber-sumber alternatif seperti energi matahari, angin, biomass, tenaga panas bumi, tenaga
air dan tenaga nuklir.
Secara tradisional pertimbangan terhadap penggunaan energi umumnya dilakukan dengan melihat harga yang termurah. Namun, setelah munculnya kesadaran masyarakat dunia untuk suatu bentuk dunia yang bersih lingkungan dan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) maka faktor harga murah saja sudah tidak menjadi populer lagi.
Sumber Energi Alternatif
Teknologi nuklir, misalnya, sejak lama telah digunakan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Prancis, dan lain-lain. Prancis sendiri menggunakan 76,4% dari sumber energinya berasal dari energi nuklir. Secara keseluruhan 15% dari tenaga pembangkit listrik yang digunakan adalah dari tenaga nuklir. Hal ini berarti teknologi nuklir telah teruji dapat digunakan sebagai sumber penghasil tenaga listrik yang andal dan aman.
Sayangnya, secara teknologi maupun sosial-psikologi masyarakat Indonesia belum siap untuk menggunakan tenaga nuklir. Rencana pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Pulau Madura yang sempat mencuat, beberapa waktu lalu, hanya terbatas sebagai wacana belaka, belum ada realisasi yang riil di lapangan.

Silakan baca lanjutan artikel ini di sini

Tulisan ini atas sumbangsih Hendra Manggala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *