Sektor Migas Harus Menjadi Pilar Ekonomi Indonesia (1)

Di kuartal keempat tahun 2015 ini, banyak kejadian yang cukup krusial terjadi di Tanah Air, khususnya dalam sektor minyak dan gas. Tiga di antaranya adalah  kasus rekaman percakapan dalam pertemuan terlarang yang diduga dilakukan oleh Setya Novanto, Reza Chalid, bersama Direktur Utama Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, turunya harga BBM beberapa hari lalu, dan diaktifkannya lagi FSRU Lampung oleh PGN.

Ketiga peristiwa tersebut menarik perhatian banyak publik karena apa yang terjadi menyangkut nasib banyak rakyat Indonesia. Pertama, Ihwal kasus Setya Novanto jelas menyakiti hati rakyat Indonesia, bukan saja soal banyaknya nama pejabat pemerintah yang dicatut dalam rekaman pembicaraan tersebut termasuk Presiden dan Wapres RI yang dicatut, tapi juga soal perpanjangan Kontrak Karya Freeport yang menuai banyak protes sebab selama ini perusahaan tambang asal Amerika itu terlalu kecil memberi keuntungannya pada Indonesia, yaitu hanya 1% dari total keuntungan yang mereka dapat dari mengeruk gunung emas berpuluh-puluh tahun sejak era Soeharto.

Belakangan beredar kabar dari laman resmi ESDM bahwa perpanjangan kontrak karya Freeport akan dilakukan. Hal ini menegaskan dugaan Rizal Ramli tentang adanya antar geng yang merebutkan saham dari Freeport jika perusahaan milik Jim Bob ini jadi memperpanjang kontraknya di Indonesia. (Selengkapnya baca di sini)

Tulisan ini sumbangsih dari Ema Fitriyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *