Stop Produksi Plastik untuk Selamatkan Bumi

Bumi diselimuti plastik. Pencemaran sampah plastik di laut sudah sangat besar dan telah ditemukan di semua bidang laut, mulai dari garis pantai, pesisir, laut dalam, dan laut beku (es) di Kutub Utara. Tentu saja itu merupakan ancaman terhadap kelestarian laut dan biotanya. Studi yang dirilis dalam Jurnal Internasional “Science” pada tanggal 13 Februari 2015, mengkuantifikasi jumlah sampah plastik (botol, tas/kantong, mainan, dan sampah plastik lainnya) yang masuk ke laut dari daratan antara 4,8-12,7 juta ton pada tahun 2010, dengan estimasi terbaik sekitar 8 juta ton.

Hamparan sampah berbagai jenis di Sungai Kali Ciliwung, 2014 via Detik
Hamparan sampah berbagai jenis di Sungai Kali Ciliwung, 2014 via Detik

Penelitian yang dipimpin oleh Jenna Jambeck, dari University of Georgia ini meneliti terhadap 192 negara pesisir di dunia yang membuang sampah plastiknya ke laut. Sebanyak 20 negara papan atas menyumbang 83% dari sampah plastik yang salah urus sehingga terbuang ke laut. Lebih dari setengah sampah plastik tersebut hanya berasal dari lima negara, yaitu China, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Kontribusi sampah plastik ke laut tahun 2010 dari 20 negara peringkat atas (satuan : pound). Grafik : Jambeck, et al. (Science, 2015)
Kontribusi sampah plastik ke laut tahun 2010 dari 20 negara peringkat atas (satuan : pound). Grafik : Jambeck, et al. (Science, 2015)

Berikut ini adalah beberapa fakta tentang plastik:

  1. Butuh 1.000 tahun (sampah) plastik untuk terurai di tanah. Bahan pembuat plastik (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Plastik sulit dihancurkan oleh alam, tidak terurai di laut, hanya hancur menjadi fragmen atau potongan-potongan kecil atau sangat kecil akibat pelapukan dan paparan sinar ultraviolet.
  2. Sampah plastik yang dibuang 1 tahun jumlahnya dapat mengitari bumi 4 kali.
  3. Tiga ratus (300) juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia dalam setiap tahun. (Selengkapnya di sini)
Penulis Hetty Indrarini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *