Thorium sebagai Energi Alternatif Meningkatkan Efisiensi Siklus Bahan Bakar

Industri lokal di Indonesia dalam pengembangannya akan didorong ke luar pulau Jawa. Untuk bisa bersaing dan tumbuh sehat, tidak terlepas dari kebutuhan akan energi. Menperin Saleh Husin mewacanakan, pengembangan energi alternatifpembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) nonuranium.

Pembangkit listrik baru yang layak dipertimbangkan adalah PLTN yang menggunakan unsur thorium atau nuklir hijau. Unsur Thorium ini sangat berlimpah terdapat di pulau Bangka Belitung, jauh lebih banyak daripada Uranium. Thorium langsung dapat diekstraksi dari tanah, dan jauh lebih aman terhadap lingkungan. Vietnam, India dan Malaysia sudah menggunakannya sebagai sumber energi alternatif bagi industri mereka.

Thorium yang disebut sebagai nuklir hijau, merupakan pilihan yang baik karena memiliki neutron-yield yang tinggi per neutron yang diserap. Jika ada masalah, dapat dimatikan segera dan reaktor akan mendingin dengan sendirinya. Pelelehan pun bisa dihindari.

Reaktor nuklir bertenaga Thorium tidak pernah dapat meleleh karena Thorium lebih ringan daripada uranium dan tidak fissile (bisa ditumpuk dan tidak akan mengalami reaksi runaway berantai). Sedangkan untuk reaktor uranium, pada keadaan operasi normal, diperlukan intervensi konstan yang aktif untuk mencegah pelelehan. (Selengkapnya baca di sini)

Tulisan ini atas sumbangsih Hetty Indrarini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *